Navigasi Utama

JERITAN SUNGAI BATANG HARI: Nadi Jambi yang Perlahan Mati di Tangan Penambang Ilegal

JERITAN SUNGAI BATANG HARI: Nadi Jambi yang Perlahan Mati di Tangan Penambang Ilegal

JAMBI — Jantung Provinsi Jambi kini tengah sekarat. Sungai Batang Hari—sungai terpanjang di Pulau Sumatra yang selama ratusan tahun menjadi sumber kehidupan, peradaban, dan kebanggaan masyarakat Jambi—telah berubah wujud. Bukan lagi aliran air yang tenang dan jenuh dengan sejarah, melainkan kubangan lumpur raksasa yang dirusak tanpa ampun oleh kerakusan mesin-mesin Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Praktik perusakan lingkungan secara terang-terangan ini telah mengubah warna air Sungai Batang Hari menjadi cokelat pekat, keruh, dan sarat dengan racun.

Aliran Air Mata dan Logam Berat

Aktivitas PETI yang masif, menggunakan pontong (rakit penambang) ilegal dan alat berat di sepanjang aliran sungai serta hulu, telah mengeruk dasar sungai tanpa standar kelestarian lingkungan sedikit pun.

Dampaknya sangat mengerikan:

 * Pencemaran Merkuri: Penggunaan air raksa (merkuri) untuk memisahkan emas dari bijihnya telah mencemari ekosistem perairan. Logam berat ini kini mengendap di rantai makanan, mengancam kesehatan jutaan warga yang masih bergantung pada air sungai untuk mandi, mencuci, dan konsumsi.

 * Pendangkalan Ekstrem: Sedimentasi akibat pengerukan liar membuat Sungai Batang Hari semakin dangkal, memicu ancaman banjir parah di musim hujan dan kekeringan ekstrem di musim kemarau.

 * Musnahnya Biota Air: Ikan-ikan lokal endemik Sungai Batang Hari kini nyaris punah, mematikan sumber penghidupan para nelayan tradisonal yang menggantungkan nasibnya pada hasil tangkapan sungai.

Pembiaran yang Melukai Nurani

Yang paling memprihatinkan dari tragedi ekologis ini bukan hanya kerusakannya, melainkan pembiaran yang sistematis. Aktivitas PETI seolah berjalan tanpa tersentuh hukum yang tegas. Mesin-mesin bergemuruh siang dan malam, asap hitam mengepul, dan truk-truk pengangkut hasil tambang lalu-lalang di bawah hidung para penegak hukum.

Hingga kapan bumi Jambi harus dikorbankan demi keuntungan segelintir pemodal hitam? Apakah para pemangku kebijakan baru akan bersuara setelah Sungai Batang Hari benar-benar berubah menjadi kuburan massal bagi ekosistemnya sendiri?

Sungai Batang Hari tidak sedang meminta belas kasihan; ia sedang menuntut keadilan. Jika negara terus menutup mata, maka Jambi sedang menggali kuburannya sendiri di atas kematian sungai kebanggaannya.

Link berhasil disalin!
+